Senin, 03 November 2008

Bau Mulut.....


Punya problem bau mulut? Jangan kuatir, hampir semua orang pernah mengalami problem yang dikenal juga dengan halitosis atau malodor. Menurut Dr. Catherine T. Lee dari Singapura, hampir 90 persen penyebab bau mulut adalah bakteri penghasil sulfur yang tinggal di bagian belakang mulut.

Kebanyakan, ini berkaitan dengan kebersihan mulut yang tak terjaga, selain gigi berlubang, infeksi gusi. dan xerostomia. Yang terakhir berciri mulut kering, air ludah kental dan sering merasa harus membasahi kerongkongan. Umumnya xerostomia disebabkan oleh dehidrasi, stres, pemakaian obat kumur mengandung alkohol, usia lanjut, radioterapi, dan obat-obat tertentu seperti antidepresen, antiasma, dan antihistamin (anti-alergi).

Penyakit atau kelainan yang lebih serius bisa juga menyebabkan bau mulut. Misalnya, perubahan hormon, gangguan pencernaan, sinusitis, infeksi amandell, bahkan kanker, diabetes, bronkitis kronis dan gangguan hati serta ginjal.

Air Garam dan Daun Sirih Cegah Bau Mulut

Banyak cara mengatasi bau mulut, misalnya dengan menggosok gigi sesudah makan, berkumur dengan air putih, atau membersihkan sisa makanan di sela-sela gigi dengan dental floss (benang gigi).

Berkumur tidak boleh setiap hari melainkan cukup dua hari sekali. Tujuannya untuk mencegah pertumbuhan bakteri jahat di dalam ekosistem atau dengan kata lain terjadilah bakteri stagnan.

Banyak produk obat kumur yang ditawarkan untuk membantu mengatasi bau mulut, bahkan mencegah plak. Tetapi apakah mungkin bisa menangkal tumbuhnya plak. Berapa jam bahan obat kumur itu bertahan di dalam mulut? Ini yang belum pernah dipikirkan orang selama ini.

Berbagai macam obat kumur telah ditawarkan ke konsumen. Mulai rasa dan bau yang keras dan tajam hingga lembut. Bahkan tidak sedikit konsumen menjadi sariawan akibat obat kumur tersebut. Terjadinya sariawan memang sangat terkait antara gigi, gusi, mukosa, jaringan pendukung gigi dan gusi, peridontal membran, dan tulang alviola (tulang rahang).

Di dalam mulut terdapat bakteri baik dan bakteri jahat. Bila penggunaan obat kumur berlebihan, maka bahan kimia di dalamnya bisa mematikan bakteri baik dan meningkatkan pertumbuhan bakteri jahat. Akibatnya timbul sariawan, radang gusi, dan lain-lain.

Pengobatan bau mulut bisa merujuk pada resep nenek moyang yang terbukti manjur, yaitu berkumur dua hari sekali dengan air garam atau air daun sirih. Untuk air garam caranya larutkan garam ke dalam air hangat dengan ukuran satu sendok makan garam untuk setengah gelas air. Aduk sampai larut maka terjadilah larutan garam pekat. Gunakan untuk kumur.

Cara lain dengan air daun sirih. Caranya, air mendidih biarkan sampai hangat. Campurkan beberapa daun sirih segar yang sudah dicuci bersih ke dalam air tersebut.

Cara mencampurkan cukup dengan meremas-remas daun sirih yang masih segar ke dalam air hangat. Getah pada batang daun ini akan keluar dan bercampur dengan air. Air daun sirih ini siap digunakan sebagai obat kumur. Saya kira kedua bahan itu mudah sekali didapat dan harganya terjangkau. Daun sirih terkenal sebagai antiseptik. Demikian juga dengan garam.

Penggunaan obat kumur tradisional ini bisa dilakukan setelah makan sahur atau sesudah berbuka puasa. Sebaiknya gosok gigi terlebih dulu, kemudian bersihkan sisa makanan di sela gigi dengan benang gigi, baru berkumur.

Cukup dua hari sekali menggunakan obat kumur ini untuk memberikan kesempatan pertumbuhan bakteri baik. Sebaiknya masyarakat pun jangan mudah terkecoh promosi. Jangan sembarangan menggunakan obat kumur. Disamping itu obat kumur tidak boleh digunakan seumur hidup

Pemakaian obat kumur, benang gigi kasar, serta tusuk gigi kayu di kalangan masyarakat merupakan hal biasa. Obat kumur dipercaya bisa mengharumkan napas, dan membuat percaya diri dalam pergaulan. Benang atau tusuk gigi juga lazim dipakai, terutama sehabis makan untuk membersihkan sisa-sisa makanan di sela-sela gigi.

Sebagian masyarakat bahkan ada yang hanya berkumur dengan obat kumur untuk menghilangkan bau mulut. Mereka ingin praktis tanpa repot-repot menyikat gigi. Namun ketiga benda tersebut, menurut dokter gigi justru ikut memicu kerusakan pada gigi maupun gusi.

Kebiasaan berkumur tanpa dibarengi menyikat gigi, tidak mampu menghilangkan bau mulut. Namun, justru akan memicu pertumbuhan kuman yang terus merusak gigi maupun gusi

Gigi, gusi, dan lidah, sebenarnya merupakan tempat berkumpulnya kuman. Padahal, kuman serta jamur, seperti terdapat di dalam usus, tergolong penghuni mulut yang normal. Mematikan seluruh kuman menjadikan populasi jamur dan k0uman meningkat. Karena itu prosedur pembersihan gigi, gusi, maupun lidah, disarankan untuk dilakukan secara perlahan, tanpa menggunakan bahan kimia secara berlebihan.

Bau mulut harus dicari sumber penyebabnya. Kalau dari makanan, jangan makan jenis makanan berbau khas, seperti pete, jengkol, bawang, atau durian. Demikian juga orang yang makan terlalu kenyang akhirnya sering bersendawa menjadikan mulut bau. makanlah sesuai dengan kebutuhan, selain mencegah penyakit juga mencegah bau mulut.

Tidak ada komentar: